Rabu, 30 November 2011

LAPORAN PENDAHULUAN DIARE


BAB I

Konsep Dasar Penyakit Diare

1.        Pengertian
Diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3 kali/hari) serta banyaknya (lebih dari 200 g/hari) dan konsistensi (feces cair)”. (Suzanne dan brenda G Bare, 2002 : 1093)
Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebih yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair (Suriadi, Rita Yuliani, 2001 : 83).
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa diare adalah defekasi yang abnormal dengan konsistensi feces encer dan cair.

2.        Anatomi dan Fisiologi Saluran Cerna ( Rosa M. Sacharin, 1994 : 440)
a.    Anatomi
Mulut merupakan bagian pertama dari saluran pencernaan. Mulut dibatasi pada kedua pipi yang dibentuk oleh muskolus basiratorius atapnya adalah palatum yang memisahkan dari hidung dan bagian atas dan faring, lidah membentuk bagian terbesar dari mulut.
1)   Lidah
Lidah menempati kavum oris dan melekat secara langsung pada epiglotis dalam paring.
2)   Gigi
Manusia dilengkapi dengan dua set gigi yang tampak pada masa kehidupan yang berbeda-beda. Set pertama adalah gigi primer atau susu. Set kedua atau set permanen menggunakan gigi primer mulai tumbuh pada sekitar umur 6 tahun.
3)   Esofagus
Esofagus merupakan tuba otot. Berukuran 8-10 cm dari kartilago krikoid sampai bagian kardia lambung panjang berganda selama 3 tahun setelah kelahiran sesudahnya kecepatan pertumbuhan lebih lambat hingga mencapai panjang dewasa yaitu 23-30 cm.
4)   Lambung
Kapasitas lambung adalah antara 30-35 ml saat lahir dan meningkat sekitar 75 ml pada minggu kedua, pada akhir bulan pertama sekitar 10 ml dengan terjadinya perkembangan bayi, lambung berkembang sehingga mempunyai seluruh gambaran dari lambung dewasa.
5)   Usus kecil
Usus kecil dibagi lagi menjadi deudenum, jejenum, ileum. Panjangnya saat lahir sekitar 300 sampai 350 cc meningkat sekitar 50 persen selama tahun pertama kehidupan. Dinding usus dibagi menjadi beberapa lapisan mukosa, sub mukosa, muskuler dan serosa (peritoneal).



6)   Usus Besar
Usus besar berjalan dari katup ileosaekal ke anus. Dibagi dalam lima bagian : Caekum, kolon asenden, kolon transversum dan kolon desenden serta kolon sigmoid.
7)   Anus
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar. Terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh 3 spingter yaitu spingter ani internus, spingter levator dan spingter ani ekstemus.

b.    Fisiologi
1)   Mulut
Fungsi saliva terutama adalah mekanis, membantu menelan,  membantu berbicara, dan juga mempunyai aksi antiseptik.
2)   Lambung
Fungsi utama dari lambung adalah menyiapkan makanan untuk pencernaan usus, pemecahannya penambahan makanan cairan pada makanan ketika direduksi menjadi konsistensi setengah cair dan meneruskannya ke duodenum.
3)   Usus kecil
Mensekresikan cairan alkali yang kaya mukus, yang  melindungi absorbsi.
4)   Usus besar
Fungsi dari usus besar yaitu mensekresikan mukus yang mempermudah jalannya feces dan mengeluarkan fraksi zat yang tidak terserap.
5)   Anus
Anus berfungsi untuk mengeluarkan feces.


1.                     Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberpa faktor
a.    Faktor Infeksi
1)   Bakteri
2)   Virus
3)   Jamur, candida enteritis.
4)   Parasit, giardia clambia, crytoporidium
5)   Protozoa
b.    Bukan faktor infeksi
1)   Alergi makanan, susu, protein.
2)   Gangguan metabolik
3)   Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan.
4)   Obat-obatan, antibiotik.
5)   Penyakit usus, colitis okeratif, enterocolitis
6)   Emosional atau stress.
7)   Obstruksi
Penyakit infeksi, otitis media, infeksi saluran nafas atas, saluran kemih
2.    Patofisiologi



Individu yang mengalami diare berat dapat meninggal akibat syok hipovolemik dan kelainan elektrolit.
Tahapan dehidrasi :
a.       Dehidrasi ringan : berat badan menurun 3%-5% dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 ml/kg
b.      Dehidrasi sedang : berat badan menurun 6%-9% dengan volume cairan yang hilang 50-90 ml/kg
c.       Dehidrasi berat : berat badan menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/kg.
1.    Manifestasi Klinik
Mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau tak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair mungkin disertai lendir dan darah.
2.    Penatalaksanaan
a.    Medik
Dasar pengobatan diare adalah :
1)   Pemberian cairan
Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat dehidrasi dan keadaan umum.
a)    Cairan per oral
b)   Cairan parenteral                    
2)   Obat-obatan
a)    Obat anti sekresi
b)   Obat spasmolitik dan lain-lain.
c)    Anti biotik
b.    Keperawatan
Masalah pasien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko terjadinya komplikasi gangguan rasa nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.
BAB II
PENUTUP


Diare adalah peningkatan keenceran dan frekuensi tinja. Diare dapat terjadi akibat adanya zat terlarut yang tidak dapat diserap didalam tinja, yang disebut diare osmotik, atau karena iritasi saluran cerna. Penyebab tersering iritasi adalah infeksi virus atau bakteri diusu halus distal/usus besar.
Iritasi usus oleh suatu patogen mempengaruhi lapisan mukosa usus, sehingga terjadi peningkatan produk-produk sekretorik, termasuk mukus. Iritasi oleh mikroba juga mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan motilitas menyebabkan banyak air dan elekrolit terbuang karena waktu tersedia untuk penyerapan zat-zat tersebut di kolon berkurang. Individu yang mengalami diare berat dapat meninggal akibat syok hipovolemik dan kelainan elektrolit. Toksin kolera yang dikeluarkan oleh bakteri kolera adalah contoh dari bahan yang sangat merangsang motalitas dan secara langsung menyebabkan sekresi air dan elektrolit kedalam usus besar, sehingga unsur-unsur plasma yang penting ini terbuang dalam jumlah besar.
Diare dapat disebabkan oleh faktor psikologis, misalnya ketakutan/jenis-jenis stress tertentu yang diperantarai oleh stimulasi oleh saraf parasimpatis.





DAFTAR PUSTAKA


Elizabeth J. Corwin. Buku Saku Patofisiologi, Jakarta : EGC, 2000.
Mr. Ja Kim. Diagnosa Keperawatan, Jakarta : EGC, 1994.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Cari Blog Ini

Memuat...

Pesan penulis